Sobat, masa kanak-kanak seharusnya menjadi fase kehidupan yang penuh rasa aman, keceriaan, dan pengalaman positif. Namun, tidak semua anak berkesempatan tumbuh dalam kondisi yang ideal. Dokter spesialis kesehatan jiwa Tapin menuturkan bahwa beberapa anak harus menghadapi peristiwa traumatis yang meninggalkan luka psikologis mendalam.
Salah satu dampak serius dari pengalaman tersebut adalah Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Gangguan ini tidak hanya dialami orang dewasa, tetapi juga dapat terjadi pada anak-anak dengan konsekuensi jangka panjang jika tidak ditangani secara tepat.
Apa Itu PTSD pada Anak?
PTSD pada anak merupakan gangguan kesehatan mental yang muncul setelah anak mengalami atau menyaksikan peristiwa yang sangat menakutkan, mengancam, atau membahayakan keselamatan dirinya maupun orang lain.
Anak dengan PTSD biasanya mengalami ketakutan berlebihan, mimpi buruk, perubahan perilaku, hingga kesulitan mengelola emosi. Sobat perlu memahami bahwa respons anak terhadap trauma bisa berbeda dengan orang dewasa, sering kali tidak disadari karena muncul dalam bentuk perilaku sehari-hari.
Penyabab PTSD pada Anak
Kekerasan Fisik dan Psikis
Salah satu penyebab utama PTSD pada anak adalah kekerasan, baik fisik maupun psikis. Anak yang mengalami pemukulan, penganiayaan, ancaman, atau kata-kata kasar secara terus-menerus berisiko tinggi mengalami trauma mendalam.
Kekerasan verbal seperti penghinaan, bentakan, dan merendahkan harga diri juga dapat meninggalkan luka emosional yang sama seriusnya dengan kekerasan fisik.
Kekerasan Seksual
Sobat, kekerasan seksual merupakan faktor risiko terbesar terjadinya PTSD pada anak. Pengalaman ini sering menimbulkan rasa takut, malu, bersalah, dan kebingungan yang berkepanjangan.
Anak korban kekerasan seksual kerap mengalami mimpi buruk, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga menunjukkan perubahan perilaku ekstrem. Tanpa pendampingan psikologis yang tepat, trauma ini dapat terbawa hingga dewasa.
Menyaksikan Kekerasan atau Peristiwa Mengerikan
PTSD tidak hanya dialami oleh anak yang menjadi korban langsung. Anak yang menyaksikan kekerasan seperti pertengkaran orang tua, perkelahian, kecelakaan fatal, atau tindakan kriminal, juga berisiko mengalami gangguan stres pascatrauma.
Dokter spesialis kesehatan jiwa Tapin menyebutkan bahwa pengalaman visual dan emosional tersebut dapat terekam kuat dalam ingatan anak dan muncul kembali dalam bentuk kilas balik atau ketakutan berlebih.
Bencana Alam dan Kejadian Darurat
Bencana alam seperti gempa bumi, banjir, kebakaran, atau letusan gunung berapi sering kali datang tanpa peringatan dan menciptakan rasa tidak aman ekstrem.
Sobat, anak-anak yang mengalami kehilangan rumah, anggota keluarga, atau harus mengungsi dalam waktu lama sangat rentan mengalami PTSD. Situasi darurat yang berkepanjangan dapat membuat anak merasa dunia bukan lagi tempat yang aman.
Kehilangan Orang Terkasih
Kehilangan orang tua, saudara, atau figur penting dalam hidup anak secara mendadak juga dapat menjadi pemicu PTSD. Proses berduka yang tidak didampingi dengan baik dapat berubah menjadi trauma. Anak mungkin terus mengingat peristiwa kehilangan tersebut, merasa cemas berlebihan, atau takut ditinggalkan kembali oleh orang-orang terdekatnya.
Perundungan (Bullying)
Sobat, perundungan yang terjadi secara berulang, baik di sekolah maupun di lingkungan sekitar, tidak boleh Sobat anggap sepele. Bullying dapat berupa kekerasan fisik, ejekan, pengucilan, maupun serangan melalui media digital.
Tekanan psikologis yang terus-menerus ini dapat menimbulkan rasa takut kronis dan memicu PTSD pada anak, terutama jika anak merasa tidak memiliki tempat berlindung yang aman.
Pentingnya Peran Orang Dewasa
Memahami penyebab PTSD pada anak merupakan langkah awal untuk mencegah dampak yang lebih serius. Orang tua, guru, dan lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam menciptakan rasa aman serta mengenali tanda-tanda trauma sejak dini.
Info Praktek Dokter Anneke Irawati Siahaan, Sp.KJ
Menjaga kesehatan mental anak sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisiknya. Semakin dini trauma ditangani, semakin besar peluang anak untuk bangkit dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Salah satu dokter spesialis kesehatan jiwa Tapin yang bisa Sobat ajak diskusi mengenai mental anak adalah dokter Anneke Irawati Siahaan, Sp.KJ. Beliau sekarang sedang praktek di RSUD Datu Sanggul Rantau dengan jadwal setiap Senin sampai Sabtu pukul 08.00 WITA – selesai.
Informasi lebih lanjut mengenai layanan beliau bisa Sobat dapatkan dengan menghubungi admin di 0811-555-420.
Selain itu, dokter Anneke juga melayani pasien di RSU Handayati pada setiap Senin, Rabu, Jumat pukul 17.00 WITA – selesai. Sobat bisa menghubungi CS di 0852-4842-6967untuk informasi mengenai jadwal yang lebih akurat.
Itulah rekomendasi dokter spesialis kesehatan jiwa yang bisa masyarakat Tapin dan sekitarnya andalkan. Yuk, dapatkan lebih banyak informasi terkait rekomendasi dan jadwal praktek dokter spesialis yang lain dengan mengakses laman praktekdokterspesialis.com.
